oleh : Rachmadi Triatmojo
Tulisan ini telah dimuat di Harian Terbit 2 Mei 2003, Kolom OPINI
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami diwaktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.” (Al-Qur’an Surah Yunus : ayat 24). “
Pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan ilmu. Ilmu adalah obyek sedangkan pendidikan adalah proses. Subyeknya adalah para pendidik dan penuntut ilmu. Definisi ilmu, apabila kita kembalikan kepada pemahaman para ulama Salaf (terdahulu), maka akan kita dapati perkataan salah seorang Imam besar kita, Imam Syafi’i – Semoga Allah merahmatinya – mengatakan dalam syairnya:
“Setiap Ilmu selain Al-Qur’an adalah menyibukkan.
Kecuali Al-Hadits dan Ilmu Fiqih dalam Agama.
Ilmu adalah apa-apa yang ada di dalamnya perkataan ‘hadatsana’.
Dan apa-apa selain itu adalah was-wasnya syeitan-syeitan.”.
(dari Kitab Diwanul Imam Syafi’i, halaman 117, cetakan Darul Fikr)
Apabila berpaling dari pemahaman ini, maka akan kita temui kerusakan-kerusakan di muka bumi maupun di akhirat. Mula-mula kerusakan-kerusakan itu timbul akibat penyimpangan penjabaran tentang ilmu itu sendiri, sehingga hal yang demikian menghasilkan proses (baca : pendidikan) yang menyimpang pula. Selanjutnya proses yang menyimpang tersebut disadari oleh sebagian orang yang bergelut di dunia pendidikan. Dan mereka berusaha meluruskannya tanpa membenahi diskripsi ilmu itu sendiri.
Sebab penyimpangan
Penyimpangan penjabaran ilmu, timbul karena ketidaktahuan tentang apa yang harus dituntut dalam ilmu agama Islam. Banyak orang dari kalangan Islam sendiri yang bodoh akan hal ini. Mereka tidak tahu betapa banyak yang harus dipelajari. Dari Iqro’ (belajar membaca Al-Quran), Bahasa Arab, Tafsir, Hadits, lalu Fiqih, sampai Tauhid. Yang masing-masing pelajaran mempunyai kitab-kitab yang beragam dari ulama-ulama terdahulu (seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Malik dan Imam Hanafi). Dan masing-masing kitab biasanya mempunyai kitab-kitab Syarah (penjelas) lagi dari para ulama terdahulu. Demikian pula dengan cara mempelajarinya, kalau kita mengikuti panduan ulama maka kitab-kitab tersebut tidak hanya dibaca atau dikaji tetapi juga dihafal. Sehingga merupakan hal yang tidak aneh kalau ulama terdahulu mengatakan: “Setiap Ilmu selain Al-Qur’an adalah menyibukkan…”. Karena, kalau kita pergunakan seluruh umur kita untuk belajar ilmu agama, maka niscaya waktu tersebut tidak mencukupi. Akibat kebodohan inilah menghantarkan mereka kepada penjabaran ilmu yang mengalami perubahan. Mereka mengatakan ilmu itu adalah segala pengetahuan baik pengetahuan agama (ilmu syar’i) maupun pengetahuan tentang apa-apa yang ada di dunia (ilmu umum). Pemahaman ini tanpa disadari oleh mereka dan juga didukung oleh rasa minder (rendah diri) mereka terhadap gemerlap kehidupan duniawi yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan. Dan kita tahu, bahwa gelombang ilmu pengetahuan ini banyak diusung oleh orang-orang di luar Islam (baca: dunia Barat) sebagai wujud kecintaan mereka terhadap kehidupan duniawi. Read more














Discount sampai 
















Sebelumnya telah kita ketahui bahwa, pemanasan dari suatu permukaan bumi adalah sumber energi dari thermal. Jadi semakin banyak matahari memanasi suatu permukaan, semakin cepat akan terbentuk thermal. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa permukaan yang menghadap matahari dan daerah-daerah dimana sinar matahari sangat kuat akan menjadi sumber thermal. Selain itu juga permukaan yang cepat panas akan menjadi sumber thermal. Permukaan-permukaan ini misalnya, lapangan terbuka yang terlindung dari hembusan angin, bangunan, batu-batuan, jalan-jalan yang lebar dan lain-lain.
Meskipun demikian, gaya ini harus melebihi gaya tarik gravitasi yang menarik ke bawah. Kiranya mudah dilihat bahwa semakin ringan gelembung tersebut, semakin dia ingin naik ke atas. Tetapi nyatanya, selama kepadatan gelembung lebih rendah daripada cairan sekelilingnya, perbedaan tekanan akan mengalahkan gaya gravitasi. Berat cairan di sekitarnyalah yang menyebabkan adanya tekanan pada tiap level (tingkat). Akhirnya, kita dapat melihat bahwa jika gelembung adalah suatu thermal yang hangat yang dikelilingi udara yang lebih dingin dan padat, ia akan terus naik.
Panas matahari yang terik menembus angkasa yang bolong pada siang itu. Tetapi orang-orang yang berdiri di puncak “Bukit 250” (nama yang diberikan masyarakat layang gantung, pada bukit tempat start layang gantung karena tingginya 250 meter dari tempat mendarat layang gantung di daerah kebun teh Puncak, Riung Gunung, Jawa Barat) tidak perduli. Mereka semua sedang tengadah melihat ke satu arah. Mereka melihat satu layang gantung beserta penerbangnya, Roy Sadewo – seorang instruktur senior perkumpulan gantolé (layang gantung) Jakarta – sedang melayang di udara membentuk lintasan spiral.
Recent Comments