China akan tingkatkan kerjasama kontra-terorisme dengan Turki

BEIJING, ALAMISLAMI.COM — Perbedaan pandangan antara Turki dan China terkait dengan politik China kepada minoritas Muslim di Turkistan Timur (Xinjiang) tidak menghalangi kedua negara untuk meningkatkan kerjasama kontra-terorisme.

Hal tersebut diungkapkan Presiden China Xi Jinping kepada Presiden turki Recep Tayyip Erdoğan bahwa kedua negara harus meningkatkan kerjasama dalam kontra-terorisme meskipun China juga memiliki perhatian tersendiri terkait etnis Uigurs di wilayah Xinjiang, China. Seperti dikutip dari euronews.com (14/5/2017)

Beijing melalui Dubesnya di Damaskus, Suriah mengatakan bahwa setidaknya 5.000 Uigurs bergabung dengan kelompok militan di Suriah.

Beijing menolak anggapan adanya pelarangan akan kebebasan beragama melainkan konsentrasi Beijing terkait dengan militan Islam termasuk kelompol East Turkestan Islamic Movement (ETIM). (euronews.com/ANW)




Era Baru AKP: Sebuah Pembelajaran

Oleh: Agung Nurwijoyo

“AKP terlahir kembali. AKP bukan sekedar partai bagi pemilihnya, ini adalah partai bagi 80 juta rakyat Turki. Saya memahami bahwa tidak ada warga Turki yang hatinya tidak bisa disentuh AKP sepanjang kita memahami (cara) mendekati mereka. Tidak ada satupun merasa seperti “orang lain”. Tidak ada satupun merasa kebebasan mereka dalam ancaman. Tidak ada satupun merasa ketidaan harapan masa depan mereka. Di negeri ini, setiap individu adalah warga kelas 1. Kita tidak bisa berharap setiap orang menjadi seperti kita tetapi kita memiliki hak berharap setiap orang mendengarkan kita, memahami kita dan berkontribusi kepada kita jika mungkin. Karena kita tidak mengatur 80 juta orang, kita melayani mereka. Inilah perbedaan kita.” Recep Tayyip Erdoğan (Presiden Turki dan Ketua AKP) dalam Kongres Luar Biasa Ke-3 AKP

 

Ikhtisar

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan kembali terpilih menjadi Ketua Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP) setelah berpisah dengan partai yang didirikannya selama 998 hari.

Erdoğan kembali terpilih dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Ketiga AKP dengan 1.414 suara. Kembalinya Erdoğan diyakini akan memberikan transformasi signifikan dalam sistem di dalam AKP.

Hal ini sejalan dengan tema yang diusung dalam KLB Ke-3 AKP yaitu “Era Terobosan Baru: Demokrasi, Transformasi, Reformasi” (Yeni Atılım Dönemi: Demokrasi, Değişim, Reform). Era baru AKP ini yang juga diusung dalam momentum KLB Ketiga AKP ini menunjukkan kebutuhan Erdoğan dan AKP sendiri akan generasi baru politisi yang akan implementasikan rencana-rencana dimana mereka sudah memiliki loyalitas yang teruji.

Kedua, bahwa Erdoğan menginginkan bekerja bersama generasi baru yang membuka mata mereka akan politik dimana mereka generasi baru yang tidak pernah memiliki sejarah politik sebelum Erdoğan. Erdoğan terlihat akan berusaha menciptakan harmonisasi antara partai dan pemerintah Turki. Hal ini positif dalam mempersiapkan pagelaran pemilu 2019.

Namun, hal yang tetap menjadi satu prioritas utama juga adalah bagaimana penciptaan sistem yang baru di Turki serta transformasi yang ada di dalam AKP secara menyeluruh ini dapat memberikan kemajuan signifikan bagi Turki dalam menghadapi berbagai ancaman yang ada Turki pada saat baik aspek keamanan, sosial, politik dan ekonomi.

Dinamika AKP dan Turki

Ragam dinamika dan transformasi di dalam sejarah Turki mendorong keberadaan AKP. Krisis politik dan ekonomi terparah Turki pada 2001 setelah sebelumnya pada 1997 terjadi kudeta pos-modern melahirkan eksistensi AKP dan sosok Erdoğan dalam politik nasional Turki. Perjalanan berlanjut dengan adanya referendum Turki 2007 dimana rakyat bersepakat untuk memilih presiden Turki secara langsung untuk pertama kalinya. Pada 2009, kesuksesan di 7 tahun pertama melahirkan keyakinan dalam usaha meningkatkan power Turki dalam level internasional dengan adanya Visi besar jangka panjang AKP.

Terpilihnya Erdoğan sebagai Presiden Turki pada 2014 mendesak diadakannya KLB Pertama AKP dengan menunjuk Ahmet Davutoglu sebagai suksesor dari Erdoğan yang berdasarkan Konstitusi Turki 1982 bahwa seorang Presiden Turki harus terpisah dari keterikatan partai politik. Hanya beberapa bulan memimpin, Davutoglu mengundurkan diri sebagai PM Turki berikut Ketua AKP yang mendesak diadakannya KLB Kedua AKP dengan menjadikan Binali Yildirim sebagai Ketua AKP dan juga PM Turki.

Hentakan keras bagi Turki dan juga AKP hadir pada 15 Juli 2016 dengan adanya usaha kudeta yang dilakukan oleh kelompok FETO. Perubahan sistem menjadi salah satu solusi dalam Turki menghadapi berbagai ancaman dari kelompok teroris dan tantangan yang ada sehingga diadakannya referendum 2017 dimana 51,4% rakyat Turki menyepakati adanya pergantian Konstitusi Turki 1982 menuju Konstitusi Turki 2017. Transformasi dalam Konstitusi Turki 2017 ini yang membuka jalan diadakannya KLB Ketiga AKP sebagai momentum kembalinya Erdoğan ke dalam AKP.

Transformasi (Permulaan) AKP

AKP lahir dari dinamika panjang di dalam Turki. AKP tidak pernah mendefinisikan dirinya sebagai Neo-Ottoman. Nilai konservatif yang dimiliki oleh AKP ditunjukkan dengan senantiasa menjunjung tinggi nilai nasionalisme yang menyatu dengan nilai Islam yang sangat kental dengan bangsa Turki.

Ketika melihat referendum Turki 2017 sebagai sebuah momentum perubahan Turki, korelasinya selaras dengan adanya reformasi yang dilakukan di dalam tubuh AKP. Hal ini diawali dengan kembalinya Erdoğan menjadi anggota AKP pada 2 Mei 2017. Hal tersebut jika melihat Konstitusi Turki sebelumnya tidak bisa dilakukan. Namun, sebenarnya sejarah seorang kepala negara Turki yang juga menjadi ketua partai bukanlah cerita baru. Mustafa Kemal Ataturk merupakan presiden Turki yang juga pemimpin CHP. Suksesor Mustafa Kemal, Ismet Inonu juga merupakan Ketua CHP dan juga presiden Turki. Berikutnya adalah Celal Bayar yang seorang Ketua Partai Demokrat yang juga seorang presiden Turki sebelum akhirnya Celal Bayar mengundurkan diri tetapi tetap menjadi anggota senior dari DP.

Kembalinya Erdoğan yang kemudian pada KLB Ketiga AKP pada 21 Mei 2017 resmi menjadi Ketua AKP dimulai dengan melakukan beberapa perubahan signifikan:

  1. Perubahan di dalam struktur MKYK (Badan Eksekutif dan Pengambil Kebijakan Pusat Partai) yang beranggotakan 50 orang. Pembaharuah dilakukan terhadap 19 dari 50 kursi di dalam MKYK dengan menjadikan Binali Yildirim (Ketua AKP Sebelumnya yang juga masih menjabat sebagai PM Turki) sebagai ketua harian. Dua Menteri dalam kabinet yaitu Deputi PM Turki Veysi Kaynak dan Mentrei Tenaga Kerja Mehmet Muezzinoğlu dicopot dari MKYK berikut juru bicara AKP Yasin Aktay, Galip Ensarioğlu dan Şaban Dişli. Sedangkan Mendagri Süleyman Şoylu, mantan Mendagri Efkan Ala dan mantan Menbudpar Mahir Ünal masuk dalam struktur MKYK. Pemilik media DailyStar dan ATV TV Ethem Sancak masuk dalam struktur MKYK serta penulis Markar Esayan.

Keanggotaan MKYK: Binali Yıldırım, Abdülhamit Gül, Ahmet Sorgun, Ali Aydınlıoğlu, Asuman Erdoğan, Bekir Bozdağ, Berat Albayrak, Burhan Kuzu, Bülent Karakuş, Cahit Özkan, Cevdet Yılmaz, Çiğdem Karaaslan, Efkan Ala, Erol Kaya, Ethem Sancak, Fatih Şahin, Fevzi Şanverdi, Hacı Ahmet Özdemir, Hamza Dağ, Harun Karacan, H. Kübra Öztürk, Hayati Yazıcı, İbrahim Halil Yıldız, İsa Sinan Göktaş, E. Emrah Karayel, Jülide Sarıeloğlu, Mahir Ünal, Markar Esayan, Mehmet Emin Yılmaz, Mehmet Mehdi Eker, Mehmet Muş, Murat Baybatur, Mustafa Ataş, Mustafa Köse, Mustafa Savaş, Mustafa Şentop, Mustafa Yel, Nurettin Canikli, Öznur Çalık, Ravza Kavakçı Kan, Recep Uncuoğlu, Rumeysa Kadak, Süleyman Soylu, Tamer Dağlı, Vedat Demiröz, Yasemin Atasever, Zeki Aygün, Zelkif Kazdal, Zeyid Aslan and Zeynep Alkış.

  1. Dalam struktur MKYK, struktur mengakomodasi kelompok muda dalam struktur MKYK. Keanggotaan dari kalangan muda adalah Kepala Bidang Kepemudaan AKP İsa Sinan Göktaş, dan masuknya dua pemuda yang masih berusia di bawah 25 tahun dan mahasiswa strata 1 yaitu Deputi Dewan Pemuda Universitas Marmara Rumeysa Kadak dan anggota Pemuda KADEM Yasemin Atasever dalam struktur MKYK. Struktur MDK (Komite Disiplin Partai) juga diisi keterwakilan pemuda.
  2. Struktur MKYK yang baru juga mengakomodir keterwakilan wanita dengan jumlah total 9 orang wanita.
  3. Dalam forum MKYK yang baru, terdapat usulan dalam perubahan anggaran dasar AKP terkait pasal pembatasan ketua AKP maksimal 3 periode. MKYK menyepakati satu pasal baru dalam pasal 4 dimana menjadikan simbol Rabia sebagai simbol partai. Simbolitas 4 jari yang memiliki arti “satu tanah air, satu bangsa, satu negara, satu bendera” (“Tek Vatan, Tek Millet, Tek Devlet, Tek Bayrağı”)
  4. Dalam fase 6 bulan mendatang hingga November 2017, Erdoğan mempersiapkan “Peta jalan 6 Bulan” dalam sistem politik serta administrasi yang meliputi: perapihan struktur di dalam AKP, parlemen, struktur partai di tingkat wilayah, kabinet serta jajaran penasihat Erdoğan. Hal ini dilakukan seiring dengan usaha harmonisasi dengan adanya implementasi konstitusi baru Turki pasca referendum.
  5. Dalam perkembangannya, terdapat dua isu penting yang beredar. Pertama, isu akan diadakannya referendum kembali atau pemilu pendahuluan untuk mempercepat pemilu eksekutif dan legislatif yang sedianya akan berjalan pada 2019. Kedua, isu pemberlakuan kembali hukuman mati di Turki.

Transformasi ini penting dilakukan oleh Erdoğan di dalam AKP. Sebelumnya, AKP mendapatkan kritik terkait dengan nuansa berkurangnya antusiasme dan dinamisme di dalam AKP. Kondisi ini yang juga terjadi di tingkat daerah. Dari 1.379 kepala daerah, 879 berasal dari AKP. Penanggung jawab urusan daerah AKP Erol Kaya mengungkapkan bahwa kembalinya Erdoğan memberikan motivasi bagi kader AKP di tingkat daerah.

“Kita akan bersama kembali setelah 3 tahun, menciptakan permulaan baru untuk bekerja lebih keras dengan visi yang lebih besar.”

Recep Tayyip Erdoğan

 

Slogan yang Digunakan AKP dalam Sejumlah Kongresnya :

  • Seluruhnya Untuk Turki (Hey Şey Türkiye İçin).
  • Cahaya ini Tiada Pernah Padam (Bu Işık Sönmeyecek)
Kedua slogan tersebut digunakan dalam Kongres Pertama AKP pada 12 Oktober 2003. Kongres ini setahun pasca diadakannya pemilu Turki dimana AKP menang pada 1 November 2002.
  • Partainya Turki (Tükiye’nin Partisi).
  • Pemimpin Turki (Türkiye’nin Lideri)
Kedua slogan tersebut digunakan dalam Kongres Kedua AKP 11 Nov 2006
  • Kami Bersama Turki (Biz Birlikte Türkiye’yiz)
Digunakan dalam Kongres Ketiga AKP pada 3 Oktober 2009. Slogan tersebut digunakan sebagai semangat kebersamaan atas terjadinya serangan teroris.
  • Bangsa yang Besar (Büyük Millet).
  • Power yang Besar (Büyük Güç).
  • Visi 2023 (Hedef 2023)
Kongres Keempat AKP pada 30 September 2012. Pertama kali digunakannya 3 slogan: bagi partai, pemimpin dan negeri. Disamping itu, Visi 2023 disebutkan pertama kali.
  • Turki Baru, Semua Bersama (Hep Birlikte Yeni Türkiye)
KLB Pertama AKP yang diadakan pada 27 Agustus 2014. KLB diadakan karena Erdoğan menjadi Presiden Turki dan Davutoglu menjadi Ketua AKP yang baru berikut PM Turki. Slogan yang ada menunjukkan semangat kerja tim.
  • Dengan Cinta Sejak Hari Pertama (İlk Günkü Aşkla)
Kongres Kelima AKP pada 12 September 2015. Diadakan menyusul adanya hasil buruk dalam pemilu 7 Juni 2015 dengan kembali berusaha bernostalgia dan mengingat keberhasilan AKP di tahun awal.
  • Melanjutkan Perjalanan Suci (Kutlu Yürüyüşe Devam)
KLB Kedua AKP pada 22 Mei 2016. KLB yang cukup bermasalah bagi AKP ditandai dengan Davutoglu mundur sebagai Ketua AKP serta PM TuRKI dan menyerahkan kepada Binali Yildirim melalui mekanisme partai dalam MKYK.
  • Era Terobosan Baru: Demokrasi, Transformasi, Reformasi (Yeni Atılım Dönemi: Demokrasi, Değişim, Reform)
KLB Ketiga AKP pada 21 Mei 2017. Erdogan didapuk menjadi Ketua AKP kembali setelah sebelumnya secara resmi menjadi anggota AKP kembali pada 2 Mei 2017

 




Turki buka pangkalan militer di Qatar, Somalia, Azerbaijan dan Suriah, apa artinya?

Oleh: Agung Nurwijoyo

Antara Turki dan Qatar akan dibangun “Division Tactic Headquarters” di Doha. Pangkalan tersebut akan dipimpin oleh militer Qatar berpangkat Mayor Jenderal dengan Deputi berasal dari militer Turki berpangkat Brigadir Jenderal. Dalam pangkalan di Doha tersebut akan ditempatkan sekitar 500 – 600 pasukan. Turki sebelumnya juga sudah menjalankan kesepakatan militer dengan Arab Saudi.

Kolumnis Hurriyet Daily Mehmet Yılmaz menyebutnya dengan bahasa “sangat komprehensif” karena meskipun disebutkan kerjasama terbatas kepada “advising and training” tetapi Erdoğan menyatakan bahwa “operasi militer bersama” dapat juga dilakukan.

Satu kekhawatiran Yilmaz adalah kemungkinan adanya peningkatan tensi antara Saudi dan Iran dimana jika clash terjadi maka bukan tidak mungkin Qatar akan turut serta di dalamnya dan menyertakan Turki.

Analisa

Pembukaan pangkalan militer Turki di Qatar adalah babak baru dalam pola ekspansi Turki di kawasan Timur Tengah. Setidaknya hal pentingnya adalah adanya transformasi dari kebijakan luar negeri Turki dan proses perluasan pengaruh di kawasan.

Bagaimanapun juga, Qatar bukanlah menjadi aktor pertama yang menjadi basis pangkalan militer Turki. Sebelumnya, di kawasan Afrika di Mogadishu, Somalia bahwa Turki telah membuka terlebih dahulu pangkalan militernya.

Baca juga: Post-Western world dan respon Turki

Berikutnya, isu bahwa Turki berencana membuka pangkalan militer di Azerbaijan muncul dan masih dalam perdebatan disebabkan pengamat melihat bahwa pembukaan pangkalan militer di Azerbaijan diangap tidak terlalu perlu dan membuka meungkinan friksi dengan Iran, Uni Eropa dan Russia.

Meskipun menimbulkan perdebatan, kesepakatan rencana pembukaan pangkalan militer Turki direncanakan di Gizli Sherg dan Haji Zeynalabidin, Azerbaijan. Disamping itu, juga tengah direncakanan pembangunan pangkalan militer Turki di Suriah.

Sebenarnya, Turki tengah memacu terus industri pertahanan domestiknya. Sejauh ini hingga tahun 2016, Turki sudah mampu memenuhi 60% kebutuhan pertahanannya dari industri pertahanan domestiknya.

Di antaranya pemenuhan kebutuhan tersebut dilakukan oleh sejumlah perusahaan seperti Roketsan, Aselsan, TAI, FNSS, Havelsan dan sebagainya. Sebagian besar model prototipe yang telah dibangun kini telah bersiap masuk dalam proses produksi massal.

Dari data didapati bahwa ekspor alutsista Turki meningkat sekitar USD 900 juta pada 2011 menjadi USD 1,68 milyar pada 2016. Produksi helikopter nasional ATAK, prototipe mid-wieght tank Kaplan MT hasil kolaborasi FNSS Turki dan PT. Pindad Indonesia, sistem misil nasional Turki Kaan serta drone Bayraktar termasuk juga kolaborasi antara Kale Group dan Rolls-Royce Inggris dalam pengembangan jet-motors khususnya dalam perkembangan proyek pesawat jet Turki TF-X menjadi beberapa perkembangan dalam industri pertahanan Turki. perkembangan dari industri pertahanan domestik ini yang memacu Turki dalam aspek membangun kekuatan pertahanan di luar Turki.

Baca juga: Tank buatan Indonesia – Turki dipamerkan di İstanbul

Sebelumnya, kesepakatan “Mekanisme 5 Negara” berdasarkan Kesepakatan Kuala Lumpur telah dilakukan pada Maret 2017. Lima negara tersebut adalah Turki, Indonesia, Qatar, Pakistan, dan Malaysia. Kerangka kerjasama yang dibangun adalah terkait dengan peningkatan stabilitas kawasan dan perdamaian dunia dalam menghadapi tantangan keamanan seperti radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme. Skema yang akan berjalan salah satunya adalah bentuk kolaborasi di bidang industri pertahanan.

Perkembangan tersebut yang selaras dengan adanya pembukaan pangkalan militer di beberapa titik penting di luar Turki yang sebenarnya bagi Turki sangat bermakna strategis. Pembukaan pangkalan militer tersebut tidaklah terjadi begitu saja melainkan adanya sebuah transformasi dari kerjasama yang dibangun dengan pihak yang bersangkutan. Hal ini yang sebelumnya diutarakan oleh Mehmet Özkan dalam tulisannya berjudul “A Post-2014 Vision for Turkey-Africa Relations”.

Dirinya mengambil contoh dalam relasi Turki-Afrika. Di kawasan Afrika, tidak bisa dipungkiri bahwa Somalia tumbuh menjadi aktor yang memiliki relasi dekat dengan Turki. Kerjasama dalam bidang kemanusiaan / humaniter dan ekonomi menjadi kerjasama yang telah lama dibangun sebelum akhirnya ekspansi dari kerjasama beranjak ke level politik dan keamanan dengan pembukaan pangkalan militer bagi Somalia.

Baca juga: Nilai strategis kunjungan Turki ke India

Namun, pembukaan ini tidak hanya berdampak terhadap Somalia an sich melainkan adanya perluasan dalam pengaruh Turki di kawasan Timur Tengah tetapi dengan pandangan Turki utnuk membangun hubungan dengan Afrika yang bersifat win-win solution.

Dengan segala kelebihannya dalam hal perluasan pengaruh Turki baik di kawasan Timur Tengah (dari pembukaan pangkalan militer di Qatar), Afrika (dari pembukaan pangkalan militer Turki di Somalia) dan rencana di Asia Tengah (pangkalan militer Turki di Azerbaijan) terdapat potensi lain dalam pola kawan-lawan (amity-enmity) bagi Turki. Posisi pangkalan militer ini yang membuka posibilitas bagi Turki terseret dalam konflik jika negara bersangkutan menghadapi konflik terbuka pun juga dengan aliansi dimana negara tersebut berada.

Artinya, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Turk dalam menjalani kebijakan luar negeri baru pasca-referendum ini yang berusaha keluar dari pandangan barat-sentris menuju politik luar negeri multi-dimensi.




Nilai strategis kunjungan Turki ke India

Oleh: Agung Nurwijoyo

Pendahuluan

Kunjungan Turki ke India memiliki nilai strategis. Pertama, pasca-referendum Turki terdapat transformasi politik luar negeri Turki yang lebih multidimensional alih-alih barat-sentris. Kedua, meskipun memiliki intensi untuk meningkatkan kerjasama bidang perdagangan dimana ditargetkan mencapai USD 10 Milyar pada 2020 Turki mulai berusaha untuk menaikkan pengaruhnya di kawasan Asia Selatan dengan tidak hanya menjadi mitra strategis terhadap Pakistan. Jelas memberikan tantangan penting bagi Turki khususnya dalam merespon isu kawasan yang sensitif seperti Kashmir (IoK) dan Nuklir (NSG) terkait hubungan antara Pakistan dan India sebagai regional-power di Asia Selatan. Ketiga, cukup jelas bahwa kunjungan Turki ini dalam rangka validasi power kepemimpinan Erdogan dalam rangkaian kunjungan yang menyasar kepada kekuatan penting global yang dimulai dari India.

Agenda Kunjungan

Selama dua hari pada 30 April – 1 Mei 2017, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan kunjungan kenegaraan ke India. Fokus utama dalam kunjungan yang menyertakan rombongan 150 pengusaha Turki tersebut adalah peningkatan hubungan bilateral kedua negara dan meningkatkan kerjasama ekonomi perdagangan. India berdasarkan data IMF merupakan negara ekonomi terbaik ke-7 di dunia dan dalam 10 tahun ke depan, diprediksi India akan masuk dalam tiga besar negara ekonomi terbaik di dunia.

Presiden Erdogan sendiri bertemu dengan Presiden Pranab Kumarmukherjee, Wakil Presiden Hamid Ansari dan PM Narendra Modi. Erdogan juga menerima gelar doktor kehormatan dari Jamia Millia Islamia (Community Islamic University) di Delhi Selatan.

Sejarah Singkat Hubungan Turki – India

Turki dan India memiliki hubungan yang dekat dalam sejarahnya. Sebelum era republik, Babur Shah yang seorang pengembara dari Asia Tengah yang berkebangsaan Turk memiliki pengaruh besar dalam bahasa, budaya, seni dan arsitektur India. di masa Perang Balkan, misi kesehatan yang dibawa oleh Dr. Mukhtar Ahmed Ansari terhadap pasukan Turki menunjukkan hubungan yang telah lama ada antara India dan Turki. Disamping itu, secara resmi Turki mengakui kemerdekaan India pada tahun 1947.

Sejak 1973, sejumlah perjanjian dan protokol disepakati kedua belah pihak di bidang maritim, transportasi udara, kereta api, dan pariwisata. Investasi perusahaan Turki di India meliputi sektor telekomunikasi, konstruksi, kosmetik, besi dan baja, konstruksi jalur pipa, produksi polyster, industri otomotif, tekstil, keramik, dan peralatan elektronik.

Hubungan Turki dan India kembali dibuka melalui kunjungan Presiden Turgut Ozal pada 1986 yang ditandai juga dengan pembukaan perwakilan militer di masing-masing perwakilan baik di India maupun di Turki. PM Atal Bihari Vajpayee melaluikan kunjungan kenegaraan ke Turki pada September 2003 dan kembali didorong oleh perwakilan milier antara kedua belah pihak untuk memperkuat hubungan militer keduanya.

PM Erdogan melakukan kunjungan kenegaraan ke India pada November 2008 dimana beberapa kerjasama diperkuat khususnya dalam bidang pertahanan. Kedua negara juga rutin melalukan latihan perang bersama hingga saat ini.

Fakultas Aeronautika Istanbul Technical University (ITU) mengirimkan satelit nano melalui Indian Space Research Organization pada 2009. Saat ini, ITU mengembangkan kerjasamanya dalam bidang teknologi luar angkara dengan sejumlah perusahaan India.

Potensi Ekonomi

Keduanya bersepakat memacu volume dagang hingga USD 10 Milyar pada 2020 dalam bidang teknologi informasi, infrastuktur, farmasi, kesehatan dan pariwisata. Dalam kerjasama people-to-people keduanya bersepakat akan adanya program pertukaran budaya pada 2017-2020 termasuk dalam news agencies dan institusi pelatihan serta kerjasama dalam bidang hidrokarbon, energi terbarukan khususnya energi matahari dan angin. 150 pebisnis Turki turut serta dana Turki-India Business Forum dimana Industri Turki diundang berpartisipasi dalam proyek infrastruktur di India dan turut dalam program “Make in India”.

Kerjasama yang juga akan semakin kuat adalah dalam hal proyek Southern Corridor of Asia-Europe Rail (SCAER) yang akan menghubungkan antara Kolkata, yang diperpanjang ke Myanmar dan Thailand. Jalurnya: Afghanistan, Banglasdesh, Bhutan, India, Iran, Kazakhstan, Myanmar, Nepal, Pakistan, Russia dan Turki yang sudah melakukan pembicaraan di New Delhi pada 16 Maret 2017. Trans-Asian Railway (TAR) yang secara orisinal diajukan oleh UN Economic and Social Commission for Asia dan the Pasific (UNESCAP) pada 1980an dan didorong kepada negara yang bersangkutan pada 1992.

Artinya, kunjungan ini merupakan usaha mendorong peningkatan hubungan ekonomi antara India dan Turki.

India, merupakan trading partner Turki terbesar kedua di Asia Pasifik meskipun volume perdaganganya menurun 28% hanya USD 4,91 Milyar pada 2015-2016. Sebelumnya, volume perdagangan tertinggi antara kedua negara dicapai di tahun 2014 sebesar USD 7,48 Milyar. Turki sendiri hanya menempati peringkat ke 15 dalam peringkat ekspor India dan peringkat ke 42 dalam peringkat impor India di tahun 2016.

Berdasarkan data yang dilakukan oleh Kepala Kerjasama Ekonomi Luar Negeri Turki (DEIK / Foreign Economic Relations Board of Turkey) Omer Cihad Vardan bahwa India sangat serius dalam mengembangkan arena teknologi informasi dan mengekspor software. Pelayanan call center di perusahaan global juga dibawa India.

Beberapa sektor yang menjadi perhatian Turki diantaranya adalah konstruksi, otomotif, infrastruktur, teknologi informasi, makanan kemasan, dan juga sektor kesehatan dan pariwisata.

Sebanyak 200 perusahaan India dalam bidang capital terdaftar melakukan bisnis di Turki dalam bentuk joint venture, perdagangan dan kantor perwakilan. Beberapa perusahaan penting tersebut adalah GMR Infrastructures, TATA Motors, Mahindra & Mahindra, Reliance, Ispat, the Aditya Birla Group, Tractors and Farm Equipment Ltd, Jain Irrigation, Wipro and Dabur.

Perusahaan Turki di India juga memainkan peranan penting dengan total investasi USD 100 juta. Turki dan India juga merupakan anggota G20 yang memiliki potensi membangun kerjasama dalam isu global ekonomi.

Isu Reformasi PBB

Presiden Erdogan dalam rangka reformasi DK PBB menyatakan berulang “Dunia Lebih Besar dari Lima (Negara)” dimana Turki menghendaki bahwa lima anggota DK PBB tidak lebih memiliki power dibandingkan dengan keseluruhan anggota PBB dan India memberikan dukungan tersebut terhadap Turki. Secara mendasar, Kedua negara baik Turki maupun India memiliki ide serupa terkait dengan “imbalance of influence”.

India juga berusaha mengamankan posisi dalam mendapatkan posisi kursi permanen tersebut. Majelis Umum PBB memutuskan untuk menunda pembicaraan reformasi PBB hingga pertemuan 2017 ini.

Disamping itu, Pakistan dan sejumlah negara memberikan ide mengenai penambahan jumlah anggota dari DK PBB dari lima menjadi 6. Hal ini yang menjadi pembicaraan dalam grup “Uniting for Consensus” (UfC) yang diinisiasi Italia, Pakistan, Meksiko, dan Mesir serta ikut dalam grup tersebut Argentina, Korea Selatan, Spanyol, Turki dan Indonesia. Sedangkan India masuk ke dalam negara-negara G4 yang beranggotakan India, Jepang, Jerman dan Brazil yang meminta PBB mempercepat reformasi DK agar menjadi pembahasan dalam agenda sidang Majelis Umum PBB.

Isu Kashmir

Bagi Erdogan, dalam usaha penyelesaian masalah Kashmir atau IoK (India-occupied Kashmir) ditawarkan solusi melalui “dialog multilateral” dimana Turki siap turut serta dalam penyelesaian masalah tersebut. Namun, Modi memberikan respon bahwa penyelesaian masalah Kashmir bagi India lebih baik dilakukan dengan cara bilateral antara India dan Pakistan. Usulan Erdogan ini yang mendapatkan berbagai respon khususnya di domestik India dan Pakistan. Jikapun disetujui maka Turki berusaha untuk memperluas ekspansi pengaruhnya di kawasan Asia Selatan dalam aspek non-ekonomi dan humaniter.

Isu Kashmir memang sensitif. Dorongan Erdogan agar penyelesaian masalah Kashmir dalam level multilareal seperti halnya isu Siprus dianggap keluar dari sisi eksklusivitas isu ini berdasarkan Perjanjian Shimla dan Deklarasi Lahore.

Isu Terorisme

Dari kunjungan yang dilakukan Turki ke India, poin terorisme menjadi pembicaraan khusus. PM Narendra Modi mengatakan bahwa “no intent or goal, no reason or rationale can validate terrorism.” Ada usaha bersama dalam upaya pemberantasan terorisme. Dalam kunjungan tersebut, Erdogan juga secara khusus meminta India memberikan perhatian dalam penutupan sekolah-sekolah yang berafiliasi dengan FETO.

Validasi Power Erdogan?

Kunjungan ini merupakan bentuk validasi power Erdogan pasca kemenangan yang didapat dari referendum Turki 2017. Kunjungan ke India ini memulai rangkaian kunjungan Erdogan ke sejumlah kekuatan baru dunia secara berturut: India, Russia, forum One Belt One Road bersama China, dan AS serta pertemuan NATO di Brussels, Belgia.

Hubungan Turki dengan Barat khususnya dengan barat cenderung tidak optimal. Ada usaha Turki untuk merubah politik luar negerinya dari ‘barat-sentris’ menjadi ‘politik luar negeri yang multidimensi’.

Disaat ini, India merupakan pemberhentian pertama Erdogan sebelum kunjungan ke Russia, China dan AS. Erdogan seolah sedang mencari validasi atas kemenangan yang dicapainya. Ada kemiripan antara Modi dan Erdogan dimana keduanya merupakan nasionalis-relijius, memerintah dalam demokrasi multikultural dan negara emerging economies.

Di luar mainstream ekonomi dan perdagangan, tiga isu utama yang mengemuka dalam relasi keduanya: pertama, seberapa besar Pakistan berikan determinasi Turki dalam persepsi terhadap India. Kedua, persepsi Turki terhadap Kashmir. Ketiga, persepsi Turki dalam reformasi di institusi internasional yang seharusnya menghasilkan hasil ideal kesertaan India dalam DK PBB sebagai anggota permanen.

Dari posisi India juga menarik melihat relasi terhadap Isu Genosida di Armenia dan Isu Siprus dimana sebelumnya pimpinan Siprus melakukan kunjungan terhadap India dan berikan dukungan India untuk masuk ke dalam Nuclear Suppliers Group (NSG). Namun demikian, kunjungan India ke Armenia tidak berdampak negatif terhadap hubungan bilateral Turki dan India disebabkan posisi Turki yang mulai mengambil langkah strategis dalam merespon isu tersebut. Begitupun dalam masalah dukungan Siprus terhadap India.

Isu NSG sangat terkait dengan posisi Turki terhadap Pakistan. India juga menginginkan dukungan dari Turki dalam keanggotaan India seperti halnya dukungan Turki dalam keanggotaan di Missile Technology Control Regime (MCTR). Keanggotaan India dalam NSG akan mengalineasi posisi Turki terhadap China dan akan sulit mendapatkan dukungan terhadap Pakistan.

Relasi Turki dan India di dalam aspek regional kawasan Asia Selatan secara natural akan menyertakan keberadaan Pakistan. Sebenarnya, relasi Turki dan Pakistan lebih memiliki nuansa emosional dibandingkan relasi Turki dan India. Turki memiliki hubungan jangka panjang dengan Pakistan. Media internasional melihat hubungan Turki-Pakistan akan mampu mengganggu hubungan antara Turki-India.

Oleh karena itu, dari kunjungan yang dilakukan oleh Turki ini kita dapat melihat beberapa hal penting. Pertama, pasca-referendum terdapat transformasi politik luar negeri Turki yang lebih multidimensional alih-alih barat-sentris. Kedua, meskipun memiliki intensi untuk meningkatkan kerjasama bidang perdagangan dimana ditargetkan mencapai USD 10 Milyar pada 2020 Turki mulai berusaha untuk menaikkan pengaruhnya di kawasan Asia Selatan dengan tidak hanya menjadi mitra strategis terhadap Pakistan. Meskipun demikian, jelas memberikan tantangan penting bagi Turki khususnya dalam merespon isu kawasan yang sensitif terkait hubungan antara Pakistan dan India sebagai regional-power di Asia Tengah. Ketiga, cukup jelas bahwa kunjungan Turki ini dalam rangka validasi power kepemimpinan Erdogan dalam rangkaian kunjungan yang menyasar kepada kekuatan penting global yang dimulai dari India.




Post-Western world dan respon Turki

Oleh: Agung Nurwijoyo*

“It is as if a prevailing wind, which powered all the ships at sea, had suddenly ceased to blow. Now, various scattered enemies of those Western values have merged, and there is apparently no one to defend them.”

-David Brooks-

Terminologi “Post-Western World” digunakan oleh ilmuan sosial Brazil Oliver Stuenkel dalam bukunya yang berjudul serupa dan menghadirkan banyak diskusi di berbagai belahan dunia pada saat ini.

Terminologi ini yang juga digunakan oleh kalangan barat dalam menggambarkan transisi global yang terjadi. Dunia “post-western” bukanlah alternatif dari peradaban barat melainkan realitas yang dihadapi pada saat ini. Hal ini yang juga diungkapkan oleh Stuenkel yang menunjukkan penolakan akan “penciptaan fenomena baru, penguatan institusi yang dipimpin kekuatan non-barat.” Fenomena ini yang dilihat oleh Stuenkel dengan melihat keberadaan aliansi BRICS (Brazil, Russia, India, China dan South Africa). Lantas, bagaimana dengan Turki melihat perubahan di level global ini yang akan membuka pengaruh terhadap dinamika di level regional yang baik langsung atau tidak berbatasan dengan Turki ataupun level domestik Turki sendiri?

Pasca-referendum Turki 16 April lalu dimana 51,4% rakyat Turki setuju terhadap pergantian konstitusi Turki, tantangan besar diberikan kepada pemerintahan Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdoğan. Tantangan baik di level domestik, regional maupun global dihadapi oleh Turki. Tantangan ini berjalan bersamaan dengan usaha pencapaian visi 2023 yang dicanangkan pemerintahan Adalet ve Kalkınma Partisi (AKP). Politik luar negeri yang digambarkan oleh Kılıç Buğra Kanat dari SETA Sebagai politik luar negeri yang mengedepankan sisi pro-aktif dan agenda keamanan nasional.

Dalam kerangkan politik luar negeri Turki pasca-referendum lalu, setidaknya Presiden Erdogan sudah merencanakan kunjungan ke berbagai negara strategis di level global: India, Russia, China, AS serta akan mengunjungi pertemuan NATO di akhir bulan Mei. Artinya, bulan Mei 2017 ini merupakan salah satu bulan tersibuk dengan rangkaian lawatan terhadap mitra global Turki disamping adanya beberapa kunjungan ke dan dari negara sahabat Turki seperti terhadap Kuwait, Ghana, Sierra-Leone, dan Kosovo.

Baca juga: Pasca kemenangan referendum, Erdogan akan mengunjungi India, Russia, China, AS dan Pertemuan NATO

Apa yang dinantikan publik bukan hanya masalah kepemimpinan Turki di bawah Presiden Erdoğan bagaimana berjalan pasca-referendum tetapi yang lebih penting adalah arah politik luar negeri Turki bagaimana akan berjalan kemudian. Hal ini mengingat setidaknya beberapa waktu terakhir Turki menghadapi dinamika domestik dan kawasan yang sangat kuat baik dari adanya kasus SU24 dengan Russia hingga adanya proses normalisasi antara keduanya termasuk di dalamnya kasus pembunuhan terhadap Dubes Russia di Ankara, beberapa kasus serangan terorisme di sejumlah kota di Turki, usaha kudeta gagal yang dilakukan oleh kelompok FETO pada 15 Juli 2016, operasi militer dilakukan di Suriah serta meluas ke wilayah Irak menghadapi kelompok teror PKK-PYD-YPG dan ISIS, serta dinamika yang muncul di masa referendum terutama terhadap sejumlah negara dan aktor di Uni Eropa.

Kondisi tersebut menggambarkan Turki yang menghadapi serangakain gempuran dari berbagai sisi. Hal ini juga yang menghadirkan kritik dari kolumnis Hurriyet Daily News Murat Yetkin dimana Turki menghadapi stagnasi dalam politik luar negerinya. Dari berbagai dinamika tersebut, relatif Turki berhasil dalam usaha pengendalian ekonomi dimana salah satu faktor dari nilai tukar lira Turki terhadap dollar AS yang semakin membaik nilainya.

Pasca-referendum, dengan rencana kunjungan ke negara mitra global seperti India, Russia, China dan AS menunjukkan adanya usaha Turki untuk menciptakan satu pola baru dalam politik luar negeri Turki. Tanpa adanya intensi dari langkah Turki “beralih dari barat”, Turki sudah mencoba mencari alternatif lain dalam membangun kemitraan strategis.

Baca juga: Tank buatan Indonesia – Turki dipamerkan di İstanbul

Pembangunan pangkalan militer di kawasan Somalia pada 2016 lalu mengindikasikan hal yang sama dimana usaha Turki untuk memperluas pengaruhnya semakin terlihat dengan transformasi kerjasama yang dibangun dengan negara-negara Afrika tidak hanya berjalan di level kemanusiaan dan ekonomi seperti yang selama ini berjalan.

Pengaruhnya terhadap kawasan Timur Tengah juga terlihat semakin meluas dengan pembukaan pangkalan militer Turki dan ditempatkan 500-600 militernya di Doha, Qatar. Turki keluar dari pandangan tradisionalis kawasan dimana respon lebih banyak diberikan terhadap ancaman nyata yang terkait dengan perbatasan. Kedua, bahwa Turki keluar dari pandangan bahwa untuk isu Timur Tengah negara-negara akan cenderung untuk penguatan di wilayah sub-kompleksnya dan Turki yang mulai bermain di sub-kompleks Teluk menindikasikan adanya perubahan dalam pola di kawasan termasuk pola politik luar negeri Turki sendiri.

Disamping itu, salah satu yang menarik dari kunjungan Turki ke kawasan Asia Selatan diantatanya adalah terkait dengan isu sensitif Kashmir (IoK / India-occupied Kashmir) dan Nuklir (Keanggotaan NSG) dimana keduanya merupakan bentuk rivalitas antara Pakistan dan India. Jika Turki bisa memainkan peran diplomasi dalam hubungan antara kedua negara maka akan menaikkan leverage Turki di kawasan Asia Selatan. Meskipun demikian, kunjungan terhadap India memiliki potensi dalam peningkatan kerjasama ekonomi antara Turki dan India yang ditargetkan pada 2020 dapat mencapai USD 10 milyar.

Selanjutnya, terhadap China salah satu isu utama adalah tentang proyek Belt and Road Initiative yang digagas China. Relasi dengan China dan India kental dengan fokus peningkatan kerjasama ekonomi dengan Turki. bagaimana dengan Russia dan AS? Faktor ekonomi menjadi potensi disamping dalam usaha penyelesaian beberapa masalah krusial terkait dengan keamanan dan ancaman kawasan.

Baca juga: 5 negara Muslim bentuk aliansi keamanan

Turki saat ini berusaha untuk membangun politik luar negeri yang multidimensi. Multidimensi dilihat dari beragamnya aktor negara yang tidak hanya mengandalkan negara-negara barat atau barat sentris. Kedua, multidimensi dilihat juga dari beragamnya isu yang bermain bagi Turki baik dengan penggunaan instrumen hard-power ataupun soft-power.

Perubahan ini bukan berarti menegasikan Turki dari aspek ancaman yang ada tetapi seakan Turki berusaha politik luar negeri yang dibangun pada saat ini dapat memberikan keuntungan strategis bagi Turki juga dalam usaha perang terhadap teror. Namun, di sisi lain Turki tetap harus berhadapan dengan beberapa masalah lain yang memang dihadapi Turki. Dalam relasi dengan Uni Eropa misalnya, permasalahan pengungsi tetap menjadi salah satu isu penting disamping proses unifikasi Turki ke dalam Uni Eropa. Begitupun masalah yang ada dengan Armenia, Yunani, proses perdamaian di Siprus, hubungan dengan Jerman, Iran, Irak, dan Mesir.

Khusus dalam masalah Suriah dan Irak yang juga menyertakan multi-aktor baik di level kawasan maupun global seperti AS, Russia, Iran meskipun Turki berada dalam posisi yang tidak mudah, Turki tetap mengedepankan pendekatan unilateral-asertif terutama terhadap aktor yang tidak menjadi mitra bagi aliansinya di kawasan. Hal ini terlihat dari Operasi Perisai Eufrat yang telah dinyatakan selesai di Suriah Utara dan menyusul kemudian operasi militer yang ditujukan kepada basis kelompok teror PKK di Suriah Utara dan Sinjar, Irak.

Politik luar negeri multidimensi yang dilakukan oleh Turki seakan menggambarkan bahwa Turki bukan berusaha menghindari masalah-masalah yang ada di kawasan dan beberapa stakeholder utama Turki. setidaknya memang di kawasan Timur Tengah disamping Ankara terdapat juga Taheran yang semakin progresif dalam politik luar negerinya sehingga politik luar negeri Turki ini juga dapat dilihat memiliki atensi perimbangan kekuatan terhadap Taheran dalam aspek regional power. Dari politik luar negeri multidimensi ini ada usaha Turki untuk mendiversifikasi pola politik luar negeri yang ada. Artinya, Turki berusaha keluar dari periode stagnasi politik luar negeri yang tidak hanya bergantung kepada barat-sentris melainkan memasuki politik luar negeri yang bersifat multidimensi.

  • Mahasiswa Program Magister Universitas Gazi Turki



Bias media Barat terhadap Referendum Turki

ISTANBUL, ALAMISLAMI.COM – Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoglu menuduh media barat bias dan tidak akurat memberitakan rencana perubahan konstitusi Turki melalui referendum.

Cavusoglu menambahkan bahwa media barat tidak hanya berlainpandangan dengan Erdoğan dan Donald Trump tetapu juga politisi sayap kanan Hungaria PM Viktor Orban.

Baginya, di sistem pemerintahan yang baru nanti peran presiden yang lebih besar diikuti dengan akuntabilitas presiden dan adanya kekuatan dari parlemen dengan mekanisme check and balances. Sistem pemerintahan Turki yang baru akan mengikuti kehendak rakyat yang memilih siapa presiden dan pemerintahannya. (AA/ANW)




Rakyat Turki di Luar Negeri Mulai Memilih dalam Referendum

ANKARA, ALAMISLAMI.COM – Rakyat Turki yang tinggal di enam negara Eropa memulai memilih dalam gelaran referendum Turki pada Senin (27/3) hingga 9 AprIl mendatang. Keenam negara tersebut adalah Jerman, Austria, Belgia, Prancis, Swiss, dan Denmark.

Sekitar 3 juta imigran Turki berada di Jerman dan setengahnya memiliki hak pilih dalam referendum ini. WN Turki di Jepang, Tiongkok dan Afrika Selatan akan dapat memilih pada 9 April mendatang. Di AS, proses pemilihan akan dimulai pada 1 April, UK pada 6 April, Republik Turki Siprus Utara dan Belanda pada 5 April, Italia dan Arab Saudi pada 7 April dan Jerman serta Rusia pada 8 April. Pemilih juga dapat memilih di pelayanan bea cukai di pintu perbatasan dan bandara Turki sejak 27 Maret hingga 16 April.

Di Turki, 55,3 juta penduduk memiliki hak pilihnya dalam refrendum 16 April mendatang. Perubahan konstitusi Turki sudah dibicarakan sejak Erdoğan terpilih menjadi presiden pada Agustus 2014. Sebanyak 18 pasal disetujui parlemen pada Januari 2017 dengan 339 suara. Beberapa perubahan dalam konstitusi Turki diantarana perluasan peran eksekutif kepada presiden dan dihilangkannya posisi perdana menteri.

Presiden juga dapat menjadi bagian partai politik. Perubahan lainnya adalah usia minimal menjadi anggota parlemen adalah 18 tahun dan jumlah anggota dewan menjadi 600 orang. Secara simultan, pemilihan anggota parlemen dan presiden akan dilakukan setiap 5 tahun sekali dan dimulai pada November 2019. (Anadolu/ANW)




Erdoğan: Turki akan evaluasi hubungan Politik dengan Uni Eropa

ISTANBUL, ALAMISLAMI.COM – Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengatakan (23/3) bahwa Turki akan melanjutkan hubungan ekonomi dengan Uni Eropa tetapi akan mengevaluasi hubungan politik dan administratif termasuk kesepakatan imigran setelah diadakannya referendum Turki 16 April mendatang.

Dalam wawancara dengan CNNTürk, Erdoğan mengatakan bahwa negara-negara Eropa mengizinkan diadakannya kampanye “tidak” sedangkan melarang kampanye “ya” dalam gelaran referendum Turki.

Dirinya juga menuduh Jerman mendukung terorisme dan Erdoğan tidak memiliki rencana untuk mengunjungi Jerman sebelum refrendum. (dailysabah.com/ANW)




Turkish Airlines akan salurkan 60 Ton bantuan kemanusiaan ke Somalia

ANKARA, ALAMISLAMI.COM — Turkish Airlines akan mengirimkan 60 ton bantuan kemanusiaan atau setara dengan 2 juta Dolar AS ke Somalia. Bantuan ini bagian dari kampanye kemanusiaan yang dilakukan oleh bintang Vine dan Snapchat Jerome Jarre serta aktor Ben Stiller yang meminta Turkish Airlines melalui Twitter mengirimkan satu pesawatnya membantu Somalia.

Kampanye bantuan kemanusiaan Turkish Airlines di media sosial ditandai dengan adanya tagar #TurkishAirlinesHelpSomalia.

Juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin berbicara dengan Ben Stiller dan memberikan respon positif melalui twitter.

Sebelumnya, pada 4 Maret, Presiden Erdoğan meminta rakyat untuk mengambil peran dalam kampanye kemanusiaan melalui Bulan Sabit Merah Turki terhadap Somalia.

Presiden Bulan Sabit Merah Turki Kerem Kinik berterimakasih kepada Stiller atas usahanya memberikan kesadaran akan isu ini dan pihaknya tengah mempersiapkan tiga kapal dan tiga pesawat kargo untuk dikirimkan ke Yaman, Somalia dan Sudan Selatan melalui Turkish Airlines. (Anadolu Agency/ANW)




LSM Turki kirim bantuan kemanusiaan untuk Muslim Rohingya di Myanmar

ANKARA, ALAMISLAMI.COM – Yayasan Kemanusiaan Turki İHH mengungkapkan (23/3) telah mengirimkan makanan kepada lebih dari 1.000 masyarakat Muslim Rohingya di Myanmar bulan ini.

Bantuan meliputi beras, minyak, garam dan merica yang disampaikan kepada 1.085 keluarga yang tinggal di Sittwe, distrik Rakhine. İHH juga berencana mengirimkan bantuan terhadap 4.611 keluarga yang tinggal di pengungsian dan desa-desa pada akhir April ini.

Goal yang ingin dicapai İHH adalah bantuan terhadap 10.000 keluarga atau sekitar 50.000 orang warga muslim Rohingya. (Dailysabah/ANW)