Home / Afrika / Human Right Watch Tuduh Lembaga Keamanan dan Intelejen Sudan Lakukan Pelecehan terhadap Tahanan Wanita
Human Right Watch Tuduh Lembaga Keamanan dan Intelejen Sudan Lakukan Pelecehan terhadap Tahanan Wanita-Islamicgeo

Human Right Watch Tuduh Lembaga Keamanan dan Intelejen Sudan Lakukan Pelecehan terhadap Tahanan Wanita

KHARTOUM, ALAMISLAMI.COM — Dalam laporan tertanggal 24 Maret 2016, Human Right Watch menuduh aparat keamanan Sudan menggunakan kekerasan seksual dan intimidasi untuk membungkam para aktifis perempuan yang membela hak asasi manusia di negara tersebut.

Human Right Watch juga menuduh apparat kemanan dan Intelejen Sudan menangkap pembela hak asasi manusia, oposisi, dan para politisi, namun wanita menjadi pihak yang paling rentang ditangkap, seperti disebutkan dalam laporan Human Right berjudul “wanita-wanita shalihah tidak akan pernah berdemonstrasi”.

Menurut laporan tersebut “aktifis perempuan yang terjung dalam aktifitas seperti ini, menjadi target dari rangkaian tindakan asusila ini, baik berupa pelecehan seksual atau melalui ancaman dan merusak citra mereka”.

Human Right Watch menyatakan bahwa pihaknya telah mendokumentasikan “dua belas” kondisi di mana, di mana perwira keamanan melakukan “pelecehan seksual aktifis perempuan atau mengancam mereka akan melakukan pemerkosaan”, Human Right menambahkan, “banyak aktifis perempuan tidak memiliki pilihan kecuali berhenti dari aktifitasnya atau lari keluar dari Sudan”.

Laporan Human Right secara khusus menyebutkan mahasiswi-mahasiswi Darfur banyak mengalami pemukulan dan pelecehan seksual dari aparat keamanan, ketika mereka sedang melakukan domonstrasi menolak pengusiran mereka dari kampus Universitas Khartoum.

Salah seorang aktifis perempuan berbicara kepada Human Right bahwa dirinya telah dipenjara selama berbulan-bulan, dan dirinya telah mengalami pelecehan seksual sebelum ia dibebaskan. Ia juga menambahkan setelah bebas, ia langsung meninggalkan Sudan.

Mengomentari laporan Human Right ini, Danial Bikel, Direktur Wilayah Afrika Human Right mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual, dan intimidasi banyak mengambil celah dari undang-undang rasis yang dominan di negara tersebut, dan juga adat masyarakat untuk membungkam perempuan.

Menurut informasi yang dihimpung Human Right Watch dari berbagai sumber, bahwa belum satu pun personil dan aparat keamanan yang ditangkap terkait dengan tindakan pelecehan ini. Bekel mengatakan dengan pemerintah Sudan yang tidak bisa melakukan penyelidikan dalam tuduhan kekerasan dan pelecehan seksual, menyebabkan adanya lingkungan yang kontra terhadap aktifis-aktifis perempuan”.

Bantahan terhadap Tuduhan Human Right Watch

1. Laporan Human Right tersebut persis sama dengan metode yang digunakan oleh lembaga-lembaga yang anti terhadap Sudan, Lembaga Human Right Watch dalam laporannya, berdasarkan pada informasi yang salah, dan tendensius dan sumbernya dari para aktifis dan oposisi yang didominasi oleh kelompok kiri Sudan atau aktifis gerakan Darfur.

2. Peristiwa yang disebutkan oleh Human Right terkait peristiwa mahasiswi Darfur di dalam kampus Khartoum adalah peristiwa yang telah berlalu lebih setahun lamanya, dan pengeluaran (pengusiran) mahasiswi Darfur disebabkan karena pelanggaran aturan dan karenan menganggu ketenangan temen-teman mereka di asrama.

3. Dan mereka tidak mengalami bentuk pelecehan seksual apapun, atau tindakan apapun yang menyentuh kehormatan sebagaimana yang dituduhkan oleh laporan Human Right.

4. Tuduhan-tuduhan Human Right terkait para aktifis Sudan yang mengalami tindakan pelecehan seksual dari pihak aparat keamanan adalah tuduhan belaka dan tendensius. Lembaga Human Right telah lama mengambil sikap anti terhadap Sudan sejak awal dekade tahun tujuhpuluhan.

5. Keterangan kepolisian dan pengadilan tidak membuktikan terjadinya bentuk pelecehan seksual terhadap aktfis perempuan yang dilakukan oleh aparat keamanan, dan satu-satunya peristiwa adalah tuntutan aktifis Shafiah Ishaq yang dilakukan oleh tokoh oposisi Maryam al-Shadiq al-Mahdi, ini juga adalah kebohongan belaka, bahkan keluarga Shafiya telah membantah tindakan Maryam al-Shadiq al-Mahdi yang berusaha merusak kredibilitas perempuan tersebut dengan tuduhan ia telah dilecehkan oleh aparat keamanan dan intelejen negara. Bahkan keluarga perempuan tersebut telah membantah tindakan tokoh oposisi Maryam al-Shadiq al-Mahdi yang berusaha merusak citra perempuan tersebut dengan tuduhan ia telah mengalami pelecehan seksual dari anggota aparat keamanan dan intelejen nasional Sudan.

6. Begitupun dengan kampung Tabit yang disebutkan dalam laporan Human Right untuk membuktikan pemerintah Sudan terbukti melalukan tindakan asusila secara terorganisir, namun menurut laporan UNAMED yang diutus ke kampung tersebut tidak menemukan satu pun bukti terjadinya tindakan asusila yang diklaim oleh radio Debenka bahwa di wilayah Tabit telah terjadi tindakan asusila pada tanggal 31 Oktober 2014.

7. Bahkan dua hari berikutnya setelah UNAMED mengeluarkan laporannya yang menyebutkan tidak menemukan bukti terjadinya tindakan asusila, UNAMED kembali meneliti tempat tersebut karena mendapat kritikan dari anggota Kongres Amerika begitu juga Dewan Keamanan PBB yang meminta untuk meneliti ulang, namun hasilnya tetap nihil tidak mendapatkan bukti.

8. Pemerintah Sudan telah membantah tuduhan Human Right Watch yang menuduh pasukan Sudan melakukan tindak kejahatan asusila.

9. Tuduhan-tuduhan yang sama telah berulang-ulang, pada akhir tahun 2014 lalu, muncul tuduhan terjadi tindakan asusila di wilayah Tabit, dan pada tahun 2016 ini tuduhan yang sejenis diklaim dialami oleh mahasiswi-mahasiswi Darfur yang melalukan demonstrasi di dalam wilayah kampus Universitas Khartoum, dan tuduhan-tuduhan yang lain sejenisnya tidak akan berhenti demi merusak nama baik Sudan.

Analisa

1. Lembaga Human Right Watch dianggap sebagai lembaga kemanusiaan terbesar kedua di dunia setelah Amnesti Internasional yang berkantor pusat di kota New York Amerika Serikat.

2. Lembaga ini telah menyatakan permusuhannya terhadap Sudan sejak Sudan mengumkan penerapan Syariat Islam pada tahun 1983, sebelumnya juga telah menuduh Pemerintah Sudan telah melakukan pembersihan etnis saat terjadi perang antara Pemerintah Sudan dan Gerakan Rakyat (al-Harakah al-Sya’biyah).

3. Walaupun peristiwa drop out mahasiswa-mahasiswa Darfur telah terjadi setahun lebih, begitupun dengan peristiwa tuduhan tindakan asusila di wilayah Tabit, namun kemunculan laporan Human Right Watch saat-saat seperti ini, menunjukkan niat permusuhan lembaga-lembaga yang ada untuk mamasifkan tekanannya kepada Pemerintah Sudan demi membela gerakan bersenjata yang sumbangsinya semakin berkurang dalam dua sektor, militer dan politik.

4. Biasanya, laporan lembaga-lembaga hak asasi manusia muncul bersamaan saat terjadi langkah-langkah positif dalam perjalanan politik atau ekonomi Sudan.

5. Lembaga Human Right dalam laporan-laporannya mengenai Sudan, secara umum bersandar pada informasi yang dikirim oleh aktifis oposisi Sudan, dan pada mayoritasnya berasal dari kelompok kiri Sudan.

Sumber: Islamicgeo.com

image_pdf

Comments

comments

About Muhammad Anas

Mahasiswa Pascasarjana Politik dan Hubungan Internasional Timur Tengah Universitas Indonesia, owner Islamic Geographic www.islamicgeo.com dan indonesiaalyoum.com

Check Also

Perang-Proxy-Gerakan-Separatis-Darfur-di-Libya-islamicgeo

Perang Proxy Gerakan Separatis Darfur di Libya

Sejak awal berdirinya, Gerakan-gerakan Separatis Sudan penuh dengan raport kejahatan berupa penculikan, pembunuhan, penjarahan dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *