
Di dunia ini setiap 2 menit satu orang wanita meninggal karena kanker leher rahim. Di Indonesia kanker ini merenggut sekitar 800 nyawa per tahun. Mengapa lebih banyak kasus kanker leher rahim di Asia khususnya di Indonesia dibanding dengan di Negara-negara maju? Bagaimana meminimalkan factor risiko atau mencegah kanker leher rahim? Dan kalau sudah kena, perlukah operasi?
Anda mungkin kaget terhenyak seperti disambar petir? Selama ini Anda rajin memeriksakan kesehatan payudara Anda dengan mammography. Namun mungkin Anda agak teledor karena tidak teratur memeriksakandiri ke dokter ginekologi. Kini mungkin Anda tidak percaya membaca berita ini.
Tak salah memang, ada 500.000 kasus kanker leher rahim setiap tahunnya teridentifikasi di seluruh dunia, tulis Dr Tommy Dharmawan dalam wawancara via e-mail dengan Nirmala. Delapan puluh persennya berada dinegara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dokter lulusan Ul ini sedang mengambil spesialisasi pencegahan dan pengobatan kanker leher rahim di negara-negara berkembang khususnya Indonesia, di Leiden University Belanda.
Kalau di Asia kanker ini termasuk pembunuh kedua setelah kanker payudara, di Indonesia kanker leher rahim merupakan pembunuh nomor satu di kalangan pasien kanker wanita (data dari RS Cipto Mangunkusumo). Dari RSCM pula diketahui bahwa kini diperkirakan ada 48 juta wanita Indonesia berisiko kanker leher rahim (kanker serviks).
Deteksi Dini Kanker Leher Rahim
Kekagetan Anda tidak mengherankan dan cukup beralasan. Dulu yang dibesar-besarkan selalu kanker payudara. Masih ingat petunjuk dan gambar-gambar cara mendeteksi benjolan kanker payudara? Memang ada anjuran untuk secara teratur memeriksakan diri dengan pap smear. Namun nadanya tidak pernah urgent atau wajib.
Koran dan majalah juga jarang mengungkapkan data jumlah penderita kanker serviks. Meski begitu, bukan berarti dulu tidak ada korban kanker serviks. Hetty Yosana (67 tahun) misalnya, pada awal Januari 1980 (jadi, 27 tahun yang lalu) mengalami pendarahan di luar haid. Meskipun perdarahan tidak terus menerus, namun Hetty memeriksakan diri ke dokter kandungan yang terkenal. Diagnosa dokter membuatnya kaget dan syok. Hetty menderita kanker leher rahim stadium lanjut. Hetty tidak pernah menduga bahwa dirinya bakal kena kanker serviks, dan dia pun tidak pernah secara serius mempelajari kanker tersebut sehingga tidak tahu pula gejala-gejalanya. Padahal jika sering ada penyuluhan tentang kanker serviks segencar penyuluhan kanker payudara, mungkin kanker Hetty tidak akan sampai pada stadium lanjut.
Tidak hanya pendarahan di luar haid saja yang perlu diwaspadai sebagai gejala kanker leher rahim, gejala lainnya antara lain keputihan yang tidak sembuh-sembuh dan berbau busuk, pendarahan setelah menopause, dan pendarahan setelah hubungan seksual.
Alasan utama mengapa kanker leher rahim (atau kanker serviks) meningkat dan menjadi penyebab kematian tertinggi di kalangan wanita penderita kanker di Indonesia, adalah karena pasien baru datang berobat setelah penyakitnya berada pada stadium lanjut. Salah satu penyebab diagnosis terlambat adalah karena 90% kanker ini tidak memperlihatkan gejala dini, sehingga penderita tidak menyadari bahwa dirinya mengidap kanker.
Mereka, terutama pasien di Indonesia, baru ke dokter setelah mengalami pendarahan vagina berkelanjutan. Padahal gejala ini mengindikasikan bahwa kanker leher rahim sudah berada pada stadium lanjut. “Jika kanker serviks ditemukan lebih dini, maka tingkat kesembuhannya bisa mencapai 100%,” kata Dr Nugroho Kampono, SpOG(K) dalam peluncuran kampanye “Cegah Kanker Serviks” pada 18 April 2007 di Jakarta yang diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI).
Kanker serviks menempati urutan pertama jenis kanker yang paling banyak diderita wanita Indonesia. Menurut YKI, setiap tahun tercatat 1.500 kasus baru kanker leher rahim dan setiap tahun kanker ini merenggut sekitar 800 nyawa pengidapnya.
Mengapa lebih sedikit di Barat?
Disini tampak betapa pentingnya disiplin melakukan pap smear untuk pencegahan. Dokter Tommy membandingkan kasus kanker leher rahim di Belanda dan di Indonesia.
Menurut penelitian Female Cancer Programme Foundation pada Agustus 2006 diketahui bahwa prevalensi kanker serviks di Indonesia 100 kasus per 100.000 orang, sedangkan di Belanda hanya 9 kasus per 100.000 orang. Padahal kanker ini ditularkan lewat hubungan seksual yang di negara-negara Barat (termasuk Belanda) lebih permisif dibanding di Indonesia.
Penyuluhan di negara-negara Barat sudah sedemikian baiknya sehingga kaum wanitanya sadar dan disiplin memeriksakan diri ke dokter. Dengan demikian korban kanker serviks sangat minim. Sebaliknya dengan Indonesia, umumnya kaum wanita enggan melakukan pap smear karena berbagai alasan.
Minimnya pemberitaan dan penyuluhan tentang kanker leher rahim pun merupakan salah satu factor yang dihadapi Indonesia dalam usaha mencegah kanker serviks. Hal ini menurut Dr Tommy Dharmawan disebabkan langkanya data tentang kanker-kanker wanita di Indonesia sehingga pemerintah tak punya program untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang kanker-kanker wanita khususnya kanker leher rahim. Di Singapura, secara berkala pemerintah mengadakan penyuluhan tentang kanker di pusat-pusat perbelanjaan, yang diperagakan oleh artis-artis Singapura seperti yang terjadi pada 28 Maret 2007.
Namun belakangan ini agaknya Indonesia pun mulai menyadari pentingnya mensosialisasikan pengetahuantentang kanker serviks, terbukti dari diluncurkannya kampanye “Cegah Kanker Serviks” oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI). Dua orang selebriti, Annisa Pohan dan Ira Wibowo, diangkat menjadi duta kampanye. Mereka akan sering membantu YKI memberikan penyuluhan-penyuluhan ke seluruh Indonesia.
Keadaan tersebut – terlambatnya penderita kanker serviks berobat - sungguh ironis karena saat ini diagnosis dini dan pengobatan kanker sudah sedemikian maju dan mudah dilakukan. Apalagi telah diketahui bahwa kanker jenis ini biasanya tumbuh lambat, sehingga kesempatan untuk mendeteksi dini masih bisa dilakukan dengan leluasa.
Pemicu Kanker Leher Rahim
Ketika ketahuan menderita kanker leher rahim, Hetty hanya diberi tahu dokter bahwa ia kena infeksi pada serviksnya disebabkan oleh penggunaan spiral. Tak ada keterangan lain kecuali bahwa dia harus menjalani kemoterapi dan minum obat-obatan. Menurut Dr Syarief Darmasetiawan, spesialis kandungan dan kebidanan khusus kanker serviks, ada beberapa faktor luar (seperti infeksi, virus dll.) yang bisa menyebabkan sel-sel di daerah itu berkembang tidak semestinya dan lambat laun berubah menjadi kanker. Kini para ahli menduga kuat bahwa penyebab utama kanker leher rahim adalah infeksi HPV (Human Popilloma Virus) yang ditularkan lewat hubungan seksual. Ladang pembiakan yang paling subur untuk virus ini adalah saluran penghubung antara vagina dan serviks,yaitu bagian paling bawahrahim (lihat gambar sketsa).
Pria yang sering berganti pasangan seksual, potensial menularkan virus tersebut pada pasangannya. Demikian juga pria yang tidak disunat, karena menurut Dr Anton Budiono, MS, M Farm, mereka sering menderita radang pada lipatan kelamin yang tidak disunat. Wanita usia belasan tahun pun bisa terinfeksi HPV.
Faktor-faktor lain pemicu kanker serviks adalah menggunakan alat kontrasepsi lebih dari 5 tahun (ini kasus Hetty Yosana), infeksi berkelanjutan pada alat kelamin (misalnya trichomonas), melahirkan anak lebih dari lima, sering menggunakan obat-obatan yang menekan imunitas tubuh (immunosuppressant), dll.
Setelah terinfeksi, sekitar 10% virus tersebut menetap di sana, dan aktif di saat-saat kondisi wanita itu menurun misalnya ketika haid. Namun menurut Dr Tommy, perkembangan HPV bisa terhambat jika imunitas tubuh kuat sehingga lama kelamaan virus akan hilang dari tubuh (clearance). Menurut Dr Tommy Dharmawan maupun Dr Syarief Darmasetiawan, kanker serviks bisa muncul 10 tahun setelah terinfeksi HPV. Dan menurut YKI kemungkinan kanker tersebut baru diketahui setelah 20 atau 30 tahun kemudian, yaitu setelah infeksi kanker menyebar. Karena itu umumnya wanita paruh baya-lah yang terdeteksi mengidap kanker leher rahim.
Vaksin HPV, pap smear, VIA
Salah satu program preventif baru yang telah dilakukan di negara-negara Barat adalah vaksinasi HPV. Meskipun masih tergolong baru, namun vaksin ini telah digunakan secara meluas di banyak negara Barat. Namun karena harganya mahal (US$350 di Amerika) negara-negara berkembang belum banyak menggunakannya. Menurut Dr Syarief Darmasetiawan vaksin HPV diperkirakan sudah bisa didapat di Indonesia akhir tahun ini dengan harga$100 sekali suntik. Vaksin ini diberikan secara bertahap pada bulan 0, bulan 2, bulan 6 untuk imunisasi dasar agar wanita terlindung dari HPV. Angka efikasi (keampuhan) vaksin HPVmencapai 96-100% (penelitian di Barat tahun 2006). Namun vaksin akan sangat bermanfaat jika diberikan kepada wanita-wanita muda yang belum aktif secara seksual sebelum berusia 15 tahun.
Mengingat harganya yang sangat mahal, disarankan (terutama untuk Indonesia) menggunakan pap smear dan VIA (visual inspection acetic acid). setiap wanita seharusnya melakukan pap smear sejak dirinya aktif secara seksual sampai usia 65 tahun. Dilakukan satu kali setahun. Namun jika 2 atau 3 kali pap smear hasilnya negatif, maka boleh diulang kembali setiap 3 sampai 5 tahun sekali. Menurut Dr Tommy tes pap smear masih tetap menjadi standar utama. YKI mematok harga 40.000 rupiah untuk pap smear.
Sedangkan metode VIA. mampu membedakan serviks yang normal dan yang abnormal. Ditemukan pada tahun 1925 oleh Hinselman, cara ini dinilai Dr Tommy juga cocok bagi kondisi di Indonesia, karena paling akurat dan cepat mengidentifikasi pra kanker.
VIA adalah pemeriksaan vagina secara visual dengan menggunakan asam asetat 3-5% yang dibalurkan pada mulut rahim. Dibiarkan selama 20-30 detik untuk melihat efeknya. Sel-sel pra kanker berubah menjadi putih setelah dibalur dengan asam asetat. Dengan demikian metode VIA dapat digunakan secara lugs, karena tidak diperlukan proses laboratorium, dan hasilnya segera dapat diketahui. Yang perlu dilakukan pemerintah adalah mempopulerkan metode ini dan mendidik tenaga-tenaga kesehatan agar terampil melakukan VIA, terutama di daerah yang sulit dijangkau.
Jika Divonis Kanker Mulut Rahim
Ketika mengetahui dirinya mengidap kanker mulut rahim, Hetty pun sempat berontak. Apalagi ketika dari suaminya Hetty mengetahui bahwa menurut perkiraan dokter, Hetty hanya bisa bertahan hidup selama 3 bulan saja. Pengobatan kemoterapi yang dijalaninya pun membuahkan derita tersendiri. “Saat disinar sih, tidak sakit, tetapi setelah itu perut mules seperti mau melahirkan.”
Hetty juga disuntik bleomicine 2 kali seminggu. Obat ini tidak bisa disimpan. Jadi jika tiba jadwal disuntik, suaminya harus mengambil obat tersebut di toko obat di Kota. Dan ia pun hanya boleh mengambil satu ampul saja, dimasukkan ke dalam es dan dibawa ke tempat praktik dokter. Setelah disuntik, Hetty pusing dan baru boleh pulang setelah pusing hilang. Namun ia harus buru-buru pulang, karena reaksi berikutnya yaitu selama satujam setelah disuntik Hetty pasti akan menggigil kedinginan. “Rasanya seperti dimasukkan ke dalam lemari es,”tuturnya. Karena itu ia harus segera tiba di rumah, mengenakan baju dan selimut tebal.
Kedinginan ini berlangsung sekitar 30 menit. “Setelah itu saya berkeringat dan lemas sekali,” katanya. Memang Hetty pernah diberi tahu dokter bahwa ia diberi obat keras untuk menumpas kankernya, yang efeknya akan membuat rambut rontok. Namun bukannya rambut rontok, ia malah menderita gatal-gatal yang parah sebatas leher ke bawah. Dan kalau digaruk, bekas garukannya berwarna hitam. Lama kelamaan Hetty tidak tahan dengan efek sampingnya, dan obat pun dihentikan sebelum selesai satu paket. Kemudian Hetty berobat pada seorang sinshe yang direkomendasi oleh teman adiknya. Oleh sinshe, ia diberi ramuan obat yang harus direbus. Dalam 5 minggu kanker Hetty hilang (dikuatkan oleh hasil kontrol ke dokter). Semua itu terjadi pada tahun 1980.
Mencari Cara Pengobatan Lain
Tetapi 15 tahun kemudian (1995) kanker Hetty kambuh lagi. Gejalanya persis sama dengan yang dialaminya pada tahun 1980. Menurut Hetty, hal ini disebabkan ia tidak lagi minum obat sinshe. “Saya tidak tahan baunya. Saya juga kasihan pada orang-orang sekitar yang terpaksa mencium bau obat saya saat direbus,” katanya.
Menurut Dr Tommy, kanker pada stadium lanjut harus diobati sesuai dengan aturan Federasi Internasional dari Ginekologi (FIGO), yaitu kemoterapi (menggunakan sitostatika), radioterapi (menggunakan radiasi), atau kombinasi keduanya. Sedangkan jika masih dalam stadium dini dilakukan pemotongan bagian yang mengalami pra kanker. Menurut Dr Syarief, masih ada kemungkinan dilakukan histerektomi, yaitu pengangkatan rahim.Namun untuk penyembuhan yang kedua ini Hetty tetap pergi ke dokter. Kali ini ia berobat ke Dr Anton Budiono, yang juga ahli herba.
“Dokter Anton ternyata tidak menganjurkan operasi dan tidak mengatakan bahwa kanker saya sudah berada pada stadium lanjut. Dia hanya mengatakan bahwa obat-obatan yang akan diberikannya bekerja dengan lambat, tetapi tanpa efek samping,” tutur Hetty. la mendapat obat berbentuk kapsul dan cairan. “Dokter berharap semoga saya tidak sampai 2 tahun berobat padanya,” tuturnya. Ketika itu Hetty sudah tidak memikirkan masalah waktu, yang penting bisa sembuh.
Obat-obatan yang diberikan kepada Hetty adalah Ping Xiao Dan dan suplemen herba. Menurut Dr Anton Budiono, obat herba seperti Ping Xiao Dan bisa digunakan oleh para penderita kanker serviks, sedangkan bahan herba yang mempunyai efek piogenik dapat memperkuat energi vital dan middle warmer, memperlancar sirkulasi darah, menghancurkan stagnasi darah, menghentikan pendarahan, dan melunakkan tumor (Prevention and Treatment of Carcinoma in TCM, Kun J.).
Menurut Dr Anton, banyak herba yang berefek positif menghancurkan tumor terutama yang mempunyai sifat memperbaiki hubungan/komunikasi antar sel, menonaktifkan gen kanker, menghambat proliferasi sel, antiradang, antiangiogenesis, detoksikan, chelating agent, dll.
Dokter Anton juga mengharuskan Hetty berpantang beberapa makanan seperti goreng-gorengan, sea food, daging (kecuali daging ayam kampung). Dan menganjurkan makan banyak sayuran, buah-buahan, dan tahu tempe (protein nabati).
“Kurangi protein hewani agar enzim pencernaan tersedia dalam jumlah yang mencukupi untuk digunakan menghancurkan dinding protein kanker,” ujarnya dalam wawancara via e-mail dengan Nirmala. “Jauhi gula dan pengganti gula, karena itu merupakan makanan terpenting sel kanker. Hindari produk susu karena akan memperbanyak lendir Yang mempermudah masuknya zat-zat karsinogen.” Dr Anton menganjurkan diet 80% buah dan sayur segar ditambah 20% unsur biji-bijian.
Sembilan bulan setelah minum obat-obatan Dr Anton, serta mematuhi semua pantangan dan anjurannya, Hetty dinyatakan sembuh. “Sampai sekarang kanker tersebut tidak kambuh lagi,” kata Hetty.”"Sebetulnya ini merupakan surprise bagi Dr Anton, karena menurut perkiraannya saya baru akan sembuh sekitar 2 tahun.”
Mengubah Gaya Hidup
“Jelas, stres memperlemah sistem imun,” tulis Dr Anton. “Kanker adalah penyakit pikiran, tubuh, dan jiwa. Semangat Yang proaktif dan positif akan memperkuat sistem imun.” Selanjutnya tulisnya, “Kalau kita berpikir coati, maka saat itu kelenjar thymus melemah (Killing Cancer, Winters, SJW) clan di sisi lain jika kita percaya akan kesembuhan Tuhan, maka ini akan sangat memperkuat sistem imun (Natural Strategies for Cancer Patients, Blaylock, R.).”
Itulah yang telah terjadi pada Hetty. Meski awalnya ia merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan, ketika akhirnya ia pasrah, kesembuhannya lebih cepat dari yang diperkirakan Dr Anton.
Selain mengatur pola makan, tak boleh dilupakan mengubah gaya hidup, karena mengatasi kanker tidak hanya dengan membasmi sel-sel kanker tetapi juga memperkuat sistem kekebalan tubuh. Demikian Dr Tommy Dharmawan. Sistem kekebalan tubuh sangat tergantung pada gaya hidup. Merokok misalnya dapatmeningkatkan risiko kanker serviks karena berperan sebagai kofaktor pada karsinogenesis.
Selain itu stres yang tidak dikelola dengan baik, akan membuat tubuh memproduksi hormon adrenalin dan kortisol berlebihan Yang menurunkan fungsi kekebalan tubuh. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Psichosomatis Medicine 2003 menyatakan bahwa stres dapat merupakan faktor risiko perkembangan progresivitas pra kanker dan persistensi HPV, karena saat stres terbentuk hormon kortisol yang berlebihan sehingga mengganggu fungsi sistem imunitas tubuh. Dalam jurnal British Medical Psychology 1993 dinyatakan bahwa faktor psikologis dan psikofisiologis berperan pada terjadinya kanker serviks. Implikasinya adalah penanganan stres dan intervensi psikologis dapat berperan mengurangi risiko progresivitas pra kanker menjadi kanker. Dengan demikian, relaksasi dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan ketenangan jiwa dan pikiran. Aktivitas fisik yang reguler seperti olah raga juga dapat menurunkan stres dan menjaga berat badan, sehingga menurunkan risiko kanker. Kini sudah 10 tahun Hetty bebas kanker. la tetap mengikuti anjuran Dr Anton agar makan sehat. “Saya juga terbiasa minum jus buah segar,” ujarnya. Hetty sangat bersyukur kepada Tuhan dan ia begitu menyesal pernah menyalahkan Tuhan. “Kini saya melakukan kegiatan pelayanan, berkunjung ke daerah-daerah, menemui orangorang yang perlu dibantu. Ketiga anak saya sudah menikah dan memberi saya 4 orang cucu.”
Kasus Meningkat Setiap Tahun.
“Kanker serviks adalah sebuah epidemi,” ujar Dr Maurie Markman, Wakil Ketua tim peneliti di University of Texas dalam seminar di Singapura. la menandai setiap tahun ads 266.000 kasus kanker serviks di Asia, clan akan meningkat dengan maraknya penduduk Asia mengadopsi gaga hidup Barat secara membabibuta. “Bukan jumlah kematiannya yang membuat saya prihatin, melainkan penderitaan pasien kanker serviks. Kanker itu menyebabkan rasa sakit yang amat sangat, dan mereka meninggal dalam keadaan yang sangat menderita kesakitan,” demikian Dr Maurie Markman.
Dengan demikian, fokus dari program preventif terhadap kanker leher rahim adalah meningkatkan penyuluhan dan mengefektifkan pengobatan. sehingga jumlah penderitaan dan kematian menjadi berkurang karena pengidap dapat dideteksi secara dini dan disembuhkan. Bagaimana pun juga, metode preventif masih lebih baik daripada menyembuhkan kanker yang sudah terlanjur nemplok di tubuh Anda. (N)
Pola Makan Menghambat Kanker Serviks

Pola makan merupakan basis dari kesehatan. Begitu pendapat Andang Gunawan, ND, ahli -terapi nutrisi. Penelitian terhadap kandungan nutrisi, mineral, lemak, dan hormon dalam sayur dan buah menyimpulkan bahwa sayur dan buah tidak saja membuat tubuh sehat tetapi juga mampu menyembuhkan penyakit-penyakit yang menyerang tubuh karena kandungan antioksidan yang berlimpah dalam sayur dan buah. Karena itu pola makan yang baik merupakan senjata utama melawan berbagai penyakit mulai masuk angin sampai kanker.
Berikut ini panduan basis pola makan yang menghambat pemunculan sel-sel kanker dan menunjang proses penyembuhannya, menurut Linda Page, ND, PhD dalam bukunya Healthy Healing.
• Konsumsi buah-buahan, sayuran hijau yang berlimpah klorofil sebagai terapi enzim dari tanaman.
• Hindari konsumsi daging merah, minimalkan protein hewani.
• Air sangat penting, minumlah cukup cairan (minimal 2 L per hari).
• Batasi lemak dan minyak, hanya yang menyehatkan saja (omega 3 dan omega 6).
• Batasi konsumsi gula dan gula buatan.
• Batasi konsumsi garam.
• Hindari makanan yang sudah diproses, yang mengandung zat-zat aditif dan pengawet.
• Hindari minuman keras.
Khusus untuk meminimalkan dan menghambat kanker leher rahim, perlu tambahan berikut:
• Kurangi konsumsi daging berlemak.
• Kurangi susu dan produk-produknya.
• Perbanyak konsumsi buah dan sayuran (terutama golongan crucifera yaitu kol purtih dan kol merah, kembang kol, brokoli; wortel, jeruk orange) yang mengandung unsur antikarsinogen (antikanker). (N)
Majalah Nirmala / Juli 2007/ dengan sedikit perubahan
Related posts:
- Tips Mencegah Kanker Pada tahun 1994-1996, Dana Riset Kanker Dunia (the World Cancer...














Discount sampai






Write a Comment