Home / Alam Islami / Politisi Partai SGP Belanda Upayakan Pelarangan Adzan dengan Pengeras Suara
sholat

Politisi Partai SGP Belanda Upayakan Pelarangan Adzan dengan Pengeras Suara

DEN HAAG, ALAMISLAMI.COM, 16/10/2016 – Politisi sekaligus ketua fraksi Staatkundig Gereformeerde Partij (SGP/Partai Politik Reformasi, berhaluan Protestan Belanda), Kees van der Staaij mencemaskan trend dan aspirasi ummat Islam untuk mengumandang adzan menggunakan pengeras suara (luidsprekers) dari menara-menara masjid di Belanda. Van der Staaij bertekad menghadang keinginan tersebut. Upaya itu akan menjadi salah satu agenda kampanye SGP sebagai upaya pemenangan pemilu anggota DPR Belanda tahun 2017 depan.

Menurut Van der Staaij, setiap kali ‘Allahu akbar’ diserukan dari menara masjid, maka itu merupakan bagian dari islamisasi ruang publik’. Ini merupakan ‘isu yang merusak’, demikian tambah politisi SGP tersebut.

Padahal menurut pihak SGP sendiri hanya 8% masjid di Belanda yang menyerukan adzan dari menara mereka dari sekitar 500-an masjid yang ada. Sedangkan menurut Said Bouharrou dari Raad van Marokkaanse Moskeeën Nederland hanya beberapa masjid yang melakukan hal demikian. Begitu pula pengakuan serupa dari Ayhan Tonca yang mewakili Islamitische Stichting Nederland yang membawahi 150 masjid Turki di Belanda. Bahkan biasanya adzan hanya dilakukan di dalam ruangan masjid. Menurut Tonca adzan biasanya dilakukan di masjid-masjid baru yang memiliki menara. Sedangkan sebagian masjid yang ada tidak punya menara karena hasil alih-fungsi dari gedung-gedung yang sudah ada.

Padahal baik lonceng gereja maupun adzan adalah seruan untuk ibadah. Namun Van der Staaij berpendapat bahwa ‘lonceng gereja adalah tradisi Belanda, sedangkan adzan sesuatu yang lain. Adzan itu bagian dari seruan akidah.’

Tetapi hal itu coba diluruskan oleh Janneke Stegeman, ‘Teolog Tahun Ini’ Belanda bahwa pada dasarnya kedua seruan tadi sama; hanya berbeda pada tahap pengalaman, di mana lonceng gereja sudah biasa di Belanda, sedangkan adzan masih asing.

Yang ditakutkan Van der Staaij adalah kemungkinan seruan adzan itu akan dilakukan setiap waktu sholat yaitu 5 kali sehari, 7 hari sepekan. Namun menurut jubir Van der Staaij, Menno de Bruyne, kini saat yang tepat memulai diskusi tentang hal tersebut karena seruan adzan (dan lonceng gereja) dijamin oleh Konstitusi Belanda.

Menurut Bouharrou dan Tonca saat ini masjid-masjid di Belanda mengumandangkan adzan untuk publik hanya sekali sepekan yaitu saat sholat Jum’at. Itu pun melalui kesepakatan dengan pemda dan masyarakat di sekitar masjid. Kalaupun mendapat izin, skalanya juga dibatasi yang tiap daerah juga berbeda. Di Enschede adzan dibolehkan maksimal 55 desibel, sedangkan di Middelburg boleh maksimal 70 desibel (atau setara dengan suara mesin cuci).

Akan tetapi Van der Staaij tetap bersikeras. Menurutnya, orang-orang Belanda mengasosiasikan seruan ‘Allahu akbar’ dengan terorisme.’ Hal ini dibantah oleh Janneke Stegeman. Menurutnya, ‘Allahu akbar’ itu merupakan istilah yang biasa di Dunia Islam serta seringkali digemakan. Sama seperti ucapan ‘inshaAllah’. Kalau ungkapan ’Allahu akbar’ itu diasosiasikan dengan terorisme maka itu sama saja seperti menyerah kalah kepada para teroris.

Sedangkan menurut Marianne Vorthoren dari Stichting Platform Islamitische Organisaties Rijnmond (SPIOR), seruan ‘Allahu akbar’ itu sudah dikumandangkan lebih dari 1.400 tahun. Sangat tidak masuk akal kalau kini kaum Muslimin yang cinta-damai tidak boleh menggunakannya hanya karena ungkapan tersebut kebetulan disalahgunakan oleh para teroris. (BS/NL)

Sumber Foto: Biro Pers Setpres Indonesia

 

 

image_pdf

Comments

comments

About Baba Siu

Check Also

Cina akan tingkatkan kerjasama kontra-terorisme dengan Turki-islamicgeo

China akan tingkatkan kerjasama kontra-terorisme dengan Turki

BEIJING, ALAMISLAMI.COM — Perbedaan pandangan antara Turki dan China terkait dengan politik China kepada minoritas …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *